News Polewali– Sekda Makassar, Perantau asal Mamasa yang menetap di Kota Makassar kini memiliki wadah resmi untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat jejaring melalui pembentukan Perhimpunan Masyarakat Mamasa (PMM). Organisasi ini digagas sebagai sarana komunikasi, koordinasi, serta ruang bersama bagi warga Mamasa di perantauan agar lebih solid dalam berkontribusi, baik bagi daerah asal maupun kota tempat mereka bermukim.
Deklarasi PMM dijadwalkan berlangsung di Gedung Balai Manunggal TNI Makassar, dan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, mulai dari Bupati Mamasa, tokoh masyarakat, hingga diaspora Mamasa dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bali, dan kota besar lainnya.
Apresiasi dari Pemerintah Kota Makassar
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly, menyambut baik terbentuknya PMM. Ia menilai, keberadaan wadah ini akan menjadi jembatan komunikasi yang positif antara masyarakat Mamasa di Makassar dengan pemerintah setempat.
“Kita sangat mengapresiasi adanya PMM ini. Dengan adanya organisasi resmi, warga Mamasa memiliki tempat untuk menyampaikan aspirasi dan bersinergi dengan pemerintah. Harapan kami, PMM bisa ikut memberi kontribusi dalam pembangunan Kota Makassar,” ujar Zulkifly setelah menerima rombongan pengurus PMM di Balai Kota Makassar.
Lebih jauh, Sekda menegaskan bahwa Makassar sebagai kota metropolitan tumbuh berkat kontribusi semua komunitas yang ada di dalamnya. Karena itu, diaspora Mamasa pun diharapkan bisa mengambil bagian dalam membangun kota.
Ketua Umum PMM: Satukan Warga dalam Satu Forum Besar
Baca Juga: Terobosan PN Polewali Persidangan Perdata Kini Bisa Lewat Dukcapil
Sementara itu, Ketua Umum PMM, Dr. Djonny Ferianto Sambokaraeng Pualillin, SpB, SubOnk(K), menjelaskan bahwa selama ini komunitas Mamasa di Makassar masih terpecah dalam kelompok-kelompok kecil berbasis kampung. Setiap kelompok biasanya beranggotakan 30 orang, sehingga sulit untuk mengkoordinasikan agenda bersama dalam skala besar.
“Selama ini kita memang punya banyak wadah kecil, misalnya dari kampung A atau kampung B. Tapi belum ada forum besar yang bisa menyatukan semua warga Mamasa di Makassar. Karena itu, kami sepakat membentuk PMM sebagai payung besar agar koordinasi lebih baik,” terang dokter spesialis onkologi ini.
Menurut Djonny, jumlah warga Mamasa di Makassar cukup besar, diperkirakan mencapai 20 ribu orang, belum termasuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan. Jumlah itu menjadi alasan kuat dibutuhkannya sebuah wadah persatuan yang dapat menjadi rumah bersama.
“Selain untuk mempererat silaturahmi, organisasi ini juga penting agar kita bisa saling mengenal, saling membantu, terutama ketika ada warga yang mengalami kesulitan,” tambahnya.
