News Polewali– Kisah pilu datang dari Dusun Pussu, Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar. Ela (32), seorang ibu muda, harus melewati perjalanan panjang dan penuh perjuangan untuk menyelamatkan nyawa dirinya dan bayi kembarnya. Namun, takdir berkata lain. Satu dari dua bayi kembar yang dilahirkannya meninggal dunia setelah ditandu sejauh lebih dari 18 kilometer melewati medan terjal dan licin menuju rumah sakit.
Persalinan di Tengah Keterbatasan
Peristiwa bermula pada Jumat (26/9/2025) subuh, saat Ela melahirkan bayi pertamanya secara normal di rumah. Kegembiraan keluarga menyambut anggota baru seketika berubah menjadi kecemasan. Bayi kedua tidak bisa lahir normal, sementara kondisi Ela semakin melemah.
Keluarga segera membawa Ela ke puskesmas terdekat. Namun, keterbatasan fasilitas membuat tenaga medis setempat merujuknya ke RSUD Polewali Mandar untuk menjalani operasi caesar. Saat itulah perjuangan sesungguhnya dimulai.
Perjalanan Melelahkan yang Menentukan Nyawa
Warga bersama keluarga harus menandu Ela dengan menggunakan sarung dan bambu sebagai tandu darurat. Perjalanan sepanjang 18 kilometer itu bukanlah jalur biasa. Mereka melewati pegunungan curam, jalan berlumpur, serta bekas longsor sepanjang 300 meter. Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir membuat tanah semakin licin, memperberat langkah setiap orang yang ikut serta.
“Butuh lebih dari empat jam untuk sampai ke rumah sakit. Kami harus bergantian menandu karena medannya berat sekali. Mungkin karena faktor kelelahan perjalanan panjang itu, bayi keduanya tidak bisa diselamatkan,” tutur Zidane Ismail, salah seorang warga yang ikut menandu Ela, dengan nada lirih

Baca Juga: Sekolah Rakyat Program Prabowo yang Diganjar Dukungan Penuh Gubernur Sulbar
Sesampainya di RSUD Polewali Mandar, bayi kedua dinyatakan meninggal dunia. Tim medis hanya bisa berfokus menyelamatkan Ela yang kondisinya semakin kritis akibat pendarahan dan kelelahan.
Akses Terbatas, Nyawa Jadi Taruhan
Kisah yang dialami Ela bukanlah peristiwa tunggal. Warga Desa Pao-pao mengaku sering menghadapi kesulitan serupa ketika hendak mendapatkan layanan kesehatan. Buruknya infrastruktur jalan membuat perjalanan menuju fasilitas kesehatan bagaikan pertaruhan nyawa.
“Kalau ada yang sakit parah, apalagi ibu hamil, kami sering kewalahan. Tidak ada mobil yang bisa masuk karena jalan rusak, hanya motor dan tandu seadanya. Kalau hujan deras, tambah susah lagi. Kasihan sekali kalau harus kejadian begini terus,” ungkap salah satu warga setempat.








