, ,

Polewali Mandar Bocah 8 Tahun Tewas Kesetrum Saat Kejar Layangan Putus

by -1122 Views

Tragedi Menyentuh Hati: Bocah 8 Tahun Tewas Kesetrum Saat Mengejar Layangan di Polewali Mandar

News Polewali– Dunia anak-anak seharusnya dipenuhi dengan tawa dan kegembiraan, tetapi takdir berkata lain bagi Muhammad Alwi (8 tahun). Bocah asal Kelurahan Manding, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini harus meregang nyawa setelah tersengat listrik saat asyik mengejar layangannya yang putus. Peristiwa tragis ini terjadi pada [tanggal kejadian], menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.

Detik-Detik Mencekam yang Berakhir Tragis

Menurut keterangan Muhammad Yakub, paman korban, Alwi sedang bermain layangan bersama teman-temannya ketika benang layangannya putus dan tersangkut di pohon kelapa. Tanpa pikir panjang, Alwi berlari mengejar layangannya. Namun, takdir malah membawanya ke sebuah kamar mandi berdinding seng di belakang rumah tetangga.

“Saat berlari, ia tanpa sadari menyentuh dinding seng kamar mandi yang ternyata dialiri listrik,” kata Yakub dengan suara bergetar.

Alwi langsung terjatuh tak sadarkan diri di antara pohon pisang dan dinding kamar mandi. Warga yang melihat kejadian itu langsung berusaha menolong dan membawanya ke Rumah Sakit Umum (RSU) Hj. Andi Depu. Sayangnya, nyawa Alwi tidak tertolong. Tim medis menyatakan ia meninggal akibat sengatan listrik tinggi, dengan luka lebam di pundak kirinya sebagai bukti kontak dengan arus listrik mematikan tersebut.

Faktor Penyebab: Instalasi Listrik yang Tidak Aman

Setelah dilakukan pemeriksaan, polisi menemukan bahwa dinding seng kamar mandi yang disentuh Alwi ternyata dialiri listrik. Diduga, kabel jaringan PLN yang menuju kamar mandi telah terkelupas akibat gesekan dengan atap seng, sehingga arus listrik mengalir ke seluruh permukaan dinding.

“Kami telah berkoordinasi dengan PLN untuk memeriksa dan memperbaiki instalasi listrik di lokasi kejadian,” kata seorang petugas kepolisian setempat.

Baca Juga: Kemerdekaan di Balik Jeruji 5 WBP Lapas Polewali Langsung Bebas di HUT ke-80 RI

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya keamanan instalasi listrik, terutama di pemukiman padat penduduk. Banyak warga yang masih menggunakan bahan konduktor seperti seng untuk bangunan tanpa memerhatikan risiko kebocoran listrik.

Keluarga Alwi memutuskan untuk tidak melakukan autopsi karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada jenazah. Mereka memilih menguburkan Alwi sesuai syariat Islam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat.

“Kami ikhlas, ini sudah takdir Allah. Yang penting sekarang kami ingin ada perbaikan dari PLN agar kejadian seperti ini tidak terulang,” ucap salah seorang kerabat Alwi.

Tragedi Alwi seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pemeriksaan Rutin Instalasi Listrik – PLN dan warga harus bekerja sama memastikan kabel dan jaringan listrik dalam kondisi aman, terutama di area yang sering dijangkau anak-anak.

  2. Pengawasan Orang Tua – Meskipun bermain adalah hak anak, orang tua perlu memastikan lingkungan bermain yang aman, jauh dari sumber bahaya seperti listrik, jalan raya, atau sungai.

  3. Edukasi Dini tentang Bahaya Listrik – Anak-anak perlu diajari untuk tidak menyentuh kabel yang terkelupas atau benda logam yang berpotensi dialiri listrik.

Kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Beberapa kasus serupa, seperti anak-anak tewas kesetrum saat bermain di atap seng atau kolam renang dengan instalasi listrik bocor, sering kali berakhir dengan penyesalan.

Masyarakat berharap tragedi Alwi menjadi momentum bagi pemerintah dan PLN untuk lebih serius menangani masalah instalasi listrik yang tidak aman. Sebuah nyawa telah melayang, dan tidak ada kata terlambat untuk mencegah korban berikutnya.

https://osaka-renew.com/wp-content/uploads/2025/05/logo-telkomsel-removebg-preview.png